17 April 2015

Simple Sedekah

1. Belilah beberapa buah sandal jepit plastik atau bakiak kayu, letakkan di sekitar masjid   agar para jamaah dapat menggunakannya saat akan berwudhu. Anda akan menikmati pahala dari setiap orang yang memakainya.

2. Letakkanlah di jendela kamarmu segelas air atau makanan untuk burung-burung kecil yang datang hinggap ke sana.

3. Sisihkanlah dari hasil upah jerih payahmu, sebagian untuk disumbangkan kepada anak yatim.

4. Belilah sekantong plastik kaos tangan dan kaos kaki, agar bisa diberikan kepada para pekerja.

5. Letakkanlah di kamarmu sebuah kotak, dimana setiap kali kamu merasa melakukan dosa, masukan uang receh 3-5ribu ke dalamnya, jika sudah 1 bulan, buka kotak itu dan besedekahlah dengan uang tersebut. Lakukanlah ini setiap bulan.

6. Jika anda hadir dalam acara kumpul-kumpul bersama keluarga dan kerabat, belilah ½-1 doos air mineral, niatkan untuk sedekah kepada orang² yang butuh minum, yang sakit, dan lainnya.

7. Jika anda mengisi bensin atau parkir, kemudian petugasnya mengembalikan uang receh sisa kembalian, berikan sisa uang itu untuknya sebagai sedekah.

8. Belilah mushaf (Al Quran) letakkan di salah satu masjid dan bayangkan berapa pahala yang akan anda dapat pada setiap huruf yang mereka baca.

9. Berikanlah perasaan gembira kepada setiap orang, khususnya kepada mereka yang sedang tertimpa kesedihan.

10. Lemparkanlah senyum kepada orang yang anda temui, berilah salam kepada orang yang duduk dan bertuturlah dengan ucapan yang baik karena semuanya adalah sedekah.

11.Jangan biarkan anda tertidur, melainkan telah memaafkan setiap orang yang telah berbuat buruk kepadamu (menggibahi, mengadu domba dan mendzalimimu).

 

25 May 2012

Jangan Merampas Masa Depan Mereka

Pagi ini saya membaca sebuah tulisan kecil pada sebuah situs yang saya buka, kalimat singkat dari  John Dewey, seorang filsuf  bermazhab pragmatisme kenamaan dari Amerika Serikat. 
        
 If we teach today’s students as we taught yesterday’s, we rob them of tomorrow.

 
Saya terjemahkan dengan bebas : Jika kita mengajari murid hari ini dengan cara kita mengajari murid kemarin, artinya kita telah merampas masa depan mereka.


Setelah membaca kalimat singkat itu, pikiran saya segera melayang jauh ke masa lalu,   masa-masa  ketika saya menuntut ilmu.

Pendidikan formal saya dimulai pada tingkat sekolah dasar di Jakarta. Ketika itu saya belajar di sekolah dasar yang cukup diminati di lingkungan tempat tinggal kami. Sekolah saya itu terkenal karena lulusannya sebagian besar diterima di sekolah menengah favorit di Jakarta.

Pada masa itu, mata pelajaran yang dijarkan guru di sekolah begitu banyak dan sangat terpengaruh oleh suasana  politik pihak penguasa Negara pada saat itu. Bahkan saya ingat pelajaran yang berhubungan dengan ketatanegaraan saja sampai tiga mata pelajaran. Anehnya, pada masa itu, entah mengapa tidak ada pelajaran Bahasa Inggris sama sekali.

Guru saya pada masa itu  datang dengan materi yang penuh   dengan ilmu kenegaraan,  yang terus berulang dan baku karena telah terkonsep secara matang oleh pemerintah. Saya ingat pada saat itu bahkan kami sangat bangga bila berhasil menghafal deretan nama menteri yang berjumlah puluhan lengkap dengan nama departemen yang dipimpinnya secara tepat.

Wah, rasanya hebat bisa menghafal seperti itu.


Selepas sekolah dasar, saya mulai  memasuki sekolah menengah pertama. Sekolah menengah itu juga merupakan sekolah favorit di lingkungan saya.  Di sana saya mulai mendapat pelajaran Bahasa Inggris dan Science.

Lagi-lagi guru datang ke dalam kelas dengan setumpuk materi berupa catatan dan soal test yang telah ditulisnya bertahun lalu. Bahan-bahan yang sama seperti yang beliau berikan kepada kakak kelas saya setahun lalu, dua tahun lalu bahkan mungkin tiga tahun lalu..

Saya saat itu merasa jadi  kertas fotocopy dari kakak kelas saya.

Ketika saya memasuki sekolah menengah atas, pada awalnya saya datang ke kelas dengan perasaan bangga karena berhasil masuk ke sekolah menengah yang cukup favorit di lingkungan saya. Tugas pelajaran biologi saya yang pertama adalah : saya diharuskan menghafal klasifikasi mahluk hidup sebanyak seratus species dalam satu minggu  !

Wow, saya sampai terkaget-kaget mendengarnya. Menghapal seratus nama latin dari berbagai spesies mahluk hidup dalam satu minggu, bukan pekerjaan mudah bagi saya yang baru mendengar nama latin padi adalah oriza sativa. Saya bersusah payah menghafalnya.

Setelah mendengar cerita kakak kelas saya, ternyata cara menghafal ratusan spesies itu sudah diterapkan berpuluh tahun di sekolah itu. Wah, surprises yang kedua buat saya. Dan sampai hari ini bahkan saya tidak mengerti apa manfaat dari tradisi menghafal nama latin dari seratus spesies itu.

Ketika duduk diperguruan tinggi, saya mendapati tumpukan buku dan modul yang harus saya baca hamper tiap hari. Serta tumpukan Quiz yang tercetak berulang-ulang kali. Saking seringnya difotocopy, tulisan pada soal-soal itu  mulai pudar di sana-sini. sehingga sulit terbaca.

Salah satu sebab mudahnya saya lulus dari perguruan tinggi adalah karena bahan ujian yang mereka ujikan adalah bahan yang sama,  yang pernah mereka ujikan bertahun-tahun lalu. Jika kita rajin membaca soal bertahun-tahun sebelum kita, kita akan menemukan soal ujian kelulusan itu di sana dan mengerjakannya dengan mudah.

Betapa mudahnya meraih gelar sarjana.


Dan hari ini adalah saya, produk dari sistem pendidikan seperti itu. Sistem pendidikan yang mengulang-ulang. Entah hal ini disebabkan karena  guru yang malas berpikir untuk mencari inovasi mengajar yang baru atau memang karena  beliau-beliau sendiri adalah guru  yang terbentuk dari sistem pendidikan berulang-ulang, sehingga sulit berubah.

Saya dan mungkin sebagian besar teman-teman seangkatan saya kini terjerembab dalam persaingan global. Sebagian dari kami tidak bahkan hampir tidak mampu bersaing di negeri kami sendiri. Sebagian besar kami bahkan tidak mampu membaca kemajuan zaman. Sebagian dari kami gagap memahami masa depan dan modernisasi yang begitu cepat.

Mungkin kami generasi yang payah, yang tidak belajar dari masa lalu, karena  kami adalah cetakan dari masa lalu itu sendiri..

Apakah kini  kita akan kembali melahirkan generasi yang gagap menghadapi masa depan ?

Saya berpandangan bahwa keterbelakangan generasi muda kita  adalah karena kita mengajari murid kita dengan cara yang sama dengan kita saat kita memperoleh ilmu itu. Padahal kita dilahirkan  pada masa yang sama sekali berbeda dengan mereka.

Ilmu pengetahuan tidaklah statis, ia selalu berkembang terus menerus. Begitu pula bagaimana cara kita mengajarkan ilmu pengetahuan kepada anak-anak kita.

Anak-anak pada hakekatnya adalah titipan masa depan,  mereka sama sekali bukan warisan dari masa lalu kita. Tugas kita adalah mengajari mereka dengan sesuatu yang kelak ada pada masa mereka, bukan dengan sesuatu yang ada pada masa kita.

Mengajari anak-anak hari ini dengan cara kita kemarin, artinya kita sudah merampas masa depan mereka.

Proviciat Mr Dewey.


11 May 2012

I Love My Job, Although It Made Me Not a Rich: A Librarian's Testimony

I am a librarian. I joined an international school in November 2001 as a Librarian, when we didn’t have a library in the school.

I am so lucky that I have been able to create a real library in the school and fulfill my passions through my job for the past ten years.

As a Librarian, I work as an information specialist in an academic library and I love my job. I love being able to help students and teachers find what they are looking for and also  to help them figure out how to get the information they need for their school works. And these days it isn't just about finding the information, it's also about helping people to learn to control the huge stream of information they have access to and to assess the usefulness of the information they have found.

Now, I am sharing this testimony with you, with the purpose of inspiring your mind and provoking you to put your mind to work and change the circumstances of your life for the better.

I hear a lot of (lucky) people say that they love their job, but many can't seem to give an exact reason as to why.

I want to give you reasons why I love my job, although my job doesn’t give me a big income.
 
           Marva Collins says:
  
          There is no magic about my job
          I do not walk on water, I do not part the sea.
          I just love children.

I love the school, especially my job, because it gives me lots of happiness and fulfillment.

In my job, I get to interact with different people all the time—parents, students or children, teachers, and sometimes volunteers. There is always someone new to talk to. I love the variety of my job.  Every day is a new day. (Before this job, I was an attorney in the law office).

The best part about my job is that I get to show kids that reading is fun. I get to introduce them to new books and hear about all the adventures they have in the books they read.

25 October 2009

Matikan TV anda, dan mulailah membaca !

Suatu permasalah baru diprediksi secara nyata  akan muncul seiring munculnya kemajuan zaman dan modernisasi dalam dunia  teknologi informasi, yaitu masalah akibat lahirnya  sebuah benda ajaib semacam kotak bergambar alias televisi. Masalah yang dikhawatirkan ini akan muncul pada generasi yang akan datang , yaitu melemahnya daya kreatifitas otak  manusia dalam membangun imaginasi terhadap sesuatu keadaan yang ada  di sekitarnya.

Mengapa kekhawatiran itu muncul, padahal begitu besar perjuangan para ilmuwan untuk melahirkan penemuan seperti televisi ini ?

Secara tidak kita sadari, cerita dalam televisi telah membuat daya imaginasi kita  sebagai manusia  makin melemah dan tidak terasah. Kemampuan kita untuk berkhayal dan mengembangkan opini akan berkurang sedikit demi sedikit sehingga sampai pada tingkat tertentu kita tidak mampu berimaginasi secara penuh. Dan itu disebabkan oleh mewabahnya cerita bergambar melalui televisi.

Televisi walaupun terlihat nyata diyakini bukanlah barang yang sehat untuk memaparkan suatu ide cerita dari pengarang kepada penggemarnya. Cerita melalui televisi membuat kita malas berpikir dan tidak terasah secara imaginatif. Cerita televisi dapat diibaratkan seperti roda tambahan pada sepeda roda tiga untuk anak-anak, yang membuat si anak tidak terjatuh tetapi ia tidak juga pandai menjaga keseimbangan untuk selamanya.

Keunggulan cerita melalui buku adalah, ia selalu mampu memancing daya imaginasi kita berkembang, karena selalu mengundang pikiran kita untuk berusaha membuat setting cerita yang semirip mungkin dengan yang dibangun oleh pengarang. Hal seperti  ini tentu tidak akan kita temui di dalam cerita-cerita televisi, karena dalam cerita televisi setting  sudah digambarkan dalam suatu real setting yang sama dengan kondisi begitu nyata.

Jadi matikan televisi anda sekarang, dan mulailah membaca atau kita akan kehilangan daya imaginasi kita selamanya.


26 August 2009

Azab Modernisasi ?

Pemikiran azab modernisasi ini muncul beberapa hari lalu, ketika saya berkunjung ke rumah kakak perempuan saya. Ketika tiba di sana waktu menunjukan sekitar pukul 7.00 pagi di hari sabtu yang cerah.
 
Seperti kebiasaan bila saya datang, keponakan perempuan saya yang berusia 8 tahun akan menyambut saya dan menyalami saya.Kebiasaan rutin yang ia lakukan untuk sekedar menghormati orangtua atau yang dia tuakan.
Tetapi hari itu saya tidak mendapat sambutan itu, rumah sepertinya sepi-sepi saja. Wah, mungkin anak itu tidak sehat dan ada di kamarnya sehingga tidak menyambut, itu pikiran saya pertama kali. Saya segera hampiri kamarnya dan saya lihat anak itu ada di kamar, duduk manis di depan komputernya.

Ketika saya hampiri ia tetap asyik dengan komputernya, sepertinya tengah chatitng melalui internet dengan layar facebook di komputernya, dan ia tidak perduli akan kedatangan saya.

Mungkin zaman memang berbeda, tapi hal ini membuat saya resah. Anak usia 8 tahun sekarang sudah mahir bermain internet, chatting dan browsing dan itu bukan hal yang aneh lagi. Padahal saya pertama kali mengenal internet ketika saya hampir lulus SMA.

Saya sedikit mengingat penelitian prof Dadang Hawari, bahwa dibalik manfaat modernisasi ada harga yang harus kita bayar. Ini yang biasanya kita sebut azab modernisasi, yaitu melunturnya nilai-nilai penghormatan terhadap orangtua, tumbuhnya sifat permisive di kalangan generasi muda, sifat asosial dan tentu saja tingkat konsumerisme yang semakin meningkat.

Saya mungkin termasuk generasi yang gagap melalui kultur Indonesia modern, bahkan saya pernah merasakan belajar tanpa lampu listrik karena tempat tinggal saya belum dialiri listrik, walaupun ada di ibukota negara. Saluran telpon baru saya nikmati ketika saya ada di sekolah dasar.

Tetapi saat ini, keponakan perempuan saya , seperti kebanyakan anak lain di negeri ini sudah bisa memiliki koneksi internet sendiri, chatting, membuka facebook dan memiliki handphone sendiri pada usia sangat belia.

Semoga saja manfaatnya lebih besar dari azab yang kita terima.

13 August 2009

Kisah Rumput

Cerita ini sebenarnya sederhana saja, mengenai seorang ibu yang begitu mencintai tanaman di halaman rumahnya. Beliau begitu rajin dan teliti merawat halaman rumahnya, ditanaminya dengan berbagai tanaman bunga aneka rupa. Disiram setiap hari dan diberi pupuk hingga subur, sehingga setiap orang akan senang melihat taman itu.

Setiap pagi, ia selalu memandang halamannya. Hingga pada satu hari ia sangat kaget karena di pojok tamannya tumbuh rumput ilalang diantara bunga-bunganya yang berwarna-warni.
Tumbuhan itu cuma berwarna hijau dan tidak indah sama sekali. Dengan telaten si ibu mencabuti rumput itu, agar rumput itu tidak tumbuh di halamannya. Setelah bersih ia sangat puas. Tetapi beberapa hari kemudian dilihatnya rumput itu tumbuh lagi. Hatinya mulai kecewa, hingga ia cabuti lagi sampai bersih, dan ia yakin rumput itu tidak akan tumbuh lagi.

Akan tetapi beberapa hari kemudian si ibu masih melihat rumput itu tumbuh lagi. Dengan terburu-buru ia pergi ke pasar untuk membeli pembasmi gulma, dan menyemprot rumput itu sehingga mongering dan mati. Puas sudah hati ibu melihat rumput yang mengganggunya itu mati.

Akan tetapi, beberapa hari kemudian ia masih melihat rumput itu tumbuh lagi, bahkan sekarang mulai lebih besar.

Si ibu mulai gusar dan terus berpikir untuk memusnahkan rumput itu. Segera ia datang ke dinas pertamanan untuk memperoleh cara membasmi rumput itu. Setelah mendapat penjelasan dan tata cara membasmi rumput serta obat pembasmi rumput ia segera membasmi rumput itu. Rumput itu mati lebih cepat dan mengering. Ibu itu terlepas dari kegusaran.

Tapi hari kemudian ia melihat rumput itu masih tumbuh lagi, ia menjadi marah, kecewa dan sangat gusar karena di tamannya tumbuh rumput.

Akhirnya ia ingin mengadu kepada pemilik seorang pemuka agama. Pemuka agama itu dengan bijak memberi penyelesaian, agar si ibu menganggap rumput itu sebagai hiasan taman saja, sehingga si ibu tidak menjadi marah lagi.

Dengan perlahan si ibu mencoba memandang rumput itu secara seksama…dilihat daunnya yang memanjang diantara bunga mawarnya yang merah, kontras dan pelan-pelan sangat indah terlihat.

Sejak saat itu si ibu membiarkan rumput itu tumbuh di taman itu, dan ia merawat dengan telaten sehingga menjadi hiasan yang menarik.

Kadang kegusaran hati kita adalah karena hati kita terkondisikan oleh stigma yang diberikan oleh orang lain, ketika kita mengganggap rumput adalah tumbuhan pengganggu maka kita selalu berusaha memusnahkannya, padahal jika kita mengganggapnya sebagai hiasan, kita akan merawatnya.

Begitu pula dengan kegusaran kita pada suatu hal. Kita selalu merasa tidak puas atas sesuatu karena pikiran dan hati kita selalu ditentukan oleh nilai yang bukan milik kita sendiri sehingga kita merasa gusar dan kecewa. Padahal jika kita mampu berdamai dengan keadaan, kita akan memperoleh kedamaian. Seperti yang dirasakan ibu tadi terhadap tumbuhan rumputnya.

07 April 2009

Kita semua adalah pemenang !

Seorang teman bertanya kepada saya :"apa kamu pernah merasa gagal ?"...opsss....saya malah berpikir keras akan pertanyaan mudah itu. Pikiran saya mulai menerawang menembus batas-batas masa lalu saya. Satu persatu slide kehidupan saya bermunculan, ada rencana, ada kesedihan, ada keberhasilan, ada kesedihan....kemudian bermuara pada pertanyaan pokok, apa hidup kita adalah runtutan kegagalan jika tidak sesuai harapan atau itu cuma sebuah pencapaian yang belum sempurna ?

Sebagian orang mungkin akan menjawab pilihan pertama, tapi saya lebih memilih yang kedua, hidup bukan kegagalan walaupun tidak mencapai kesempurnaan yang kita inginkan. Setiap hasil yang kita capai, sekecil apapun bentuknya, itu adalah sebuah keberhasilan. Nothing to lost...everybody is winner !

Sebelum saya bekerja di tempat sekarang, saya memulai sebagai seorang konsultan hukum pada sebuah kantor pengacara yang tidak begitu besar, sesekali datang klien yang meminta bantuan hukum. Sesekali dalam satu bulan !...sebuah penghasilan yang sangat tidak layak dalam dunia profesi itu. Apakah itu sebuah kegagalan ?, jika sudut pandang kita bermula dari atas dan besaran yang selalu absolut dari angka-angka, mungkin jawabnya iya. Tapi jika kita memandang dari sudut yang lain lagi, jawabnya bisa jadi tidak, walau sedikit saja... ada hasil dari pekerjaan kita...itu adalah juga sebuah keberhasilan. Di mana nilai keberhasilannya ? bukan kah ada angka 1 setelah 0 , itu nilai sebuah keberhasilan.

Jadi tidak ada kata kalah dalam kamus hidup saya, cuma keberhasilan yang mungkin belum sempurna seperti keinginan awal. Saya teramat percaya bahwa masing-masing diri kita adalah pemenang, dalam kadar yang tidak sama tentunya, seorang akan mendapat 10, seorang juga bisa akan mendapat 5 atau mungkin 2 ... tetapi ia tetap mendapat sesuatu.

Kekalahan pada dasarnya adalah sebuah stigma pecundang yang dibuat hati kita sendiri untuk mengkerdilkan kemampuan diri kita. Kata kalah adalah jalur penghambat untuk kita dalam meraih kemajuan, penghalang kita untuk terus berjuang meraih pencapaian.

Sesungguhnya pada setiap sesuatu yang kita nilai kalah, ada nilai kemenangan yang tidak atau belum kita sadari. Bukankah selalu kita dengar nasihat bijak untuk selalu dapat mengambil hikmah dari setiap kejadian yang merugikan kita. Itu adalah kebenaran, dari setiap kekalahan ada nilai kemenangan yang mungkin tidak kita sadari.

Seorang teman lama pernah berkata kepada saya, : kalo kamu gak ingin tersesat janganlah memiliki tujuan ...' sebuah perkataan yang naif buat kita jalankan, tapi ketika saya renungkan dalam-dalam, ternyata intinya adalah bahwa kita adalah pemenang dari setiap tindakan kita, jadi sampai kemanapun perjalanan kita sampai, itulah tujuan kita.

Dalam konseptika agama itulah yang disebut bersyukur ... berterima kasih pada yang maha kuasa seberapapun yang kita raih hari ini.

Sekali lagi, karena kita semua adalah pemenang !

19 March 2009

buatlah ruang baca di rumah anda !

Athenaeum berasal dari bahasa yunani yang artinya ruang baca, atau secara sederhana kita biasa menyebutnya dengan perpustakaan. Sebuah ruang dimana tersedia berbagai informasi yang pada awalnya berupa tulisan belaka sampai saat ini juga meliputi berbagai koleksi suara, digital, ebook dan apapun segala kemajuan informasi.

Saya sangat kagum atas perhatian bangsa yunani tempo dulu, yang telah memiliki ruang khusus untuk membaca dan menyimpan koleksi bukunya. Sebuah apresiasi terhadap ilmu pengetahuan yang sangat besar. Kemampuan mereka mendokumentasikan berbagai informasi menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang besar, pintar dan sejahtera.

Lalu apakah bangsa kita tidak mampu mencontoh apresiasi tersebut ? sangat bisa tentunya. Pada saat ini walau sedikit mulai menjamur rumah baca di berbagai daerah, pendirian perpustakaan di sekolah-sekolah dengan penampilan dan sistem yang semakin modern.

Mengapa kita tidak segera membuat sebuah ruang baca (athenaeum) di rumah kita, dan kita sambut dunia dengan penuh rasa bangga.

02 February 2009

How to make a privat library ?

Sebuah pertanyaan sederhana yang nilainya penting tidak penting ditanyakan seseorang kepada saya. Beliau adalah orangtua murid di mana putranya belajar di sekolah dimana saya bekerja. Pertanyaannya adalah, bagaimana caranya membuat sebuah perpustakaan pribadi yang baik ? Beliau sering membeli buku bacaan, tetapi selalu berantakan entah dimana dan sulit mencarinya kembali.

Saya agak terkesiap sejenak, karena tidak pernah ada ukuran perpustakaan pribadi yang 'baik' karena nilai baik itu kembali kepada pemiliknya sendiri. Ada beberapa saran yang mungkin bisa saya berikan untuk beliau, bagaimana membuat sebuah perpustakaan 'yang mendekati baik'.

Pertama tentu harus kita harus tahu bahwa perpustakaan yang baik adalah perpustakaan yang mampu memberi informasi tentang isi buku/media kepada penggunanya. Untuk itu saya memberi saran agar beliau mulai menyusun suatu penataan koleksi buku secara benar dan tentu saja secara sederhana dan mudah.

Untuk tahap awal beliau saya sarankan mengumpulkan seluruh koleksi buku yang ada. Kadang banyak buku berserakan di bawah meja tamu, di dalam kamar, di kolong tempat tidur, di atas lemari, bahkan ada di dalam garasi ! Kumpulkan pada satu lokasi dan pilah berdasarkan golongan-golongannya. Misal kelompok komik (punya anak2), resep masak memasak (punya si ibu), novel (punya si kakak), atau artikel punya si ayah.
Setelah itu berilah masing2 golongan dengan label warna yang berbeda misalnya, komik dengan warna merah, resep masak dengan warna biru, novel dengan hijau, dst. Pasang label warna dengan ukuran sekitar 1 cm tersebut pada punggung buku bagian atas.
Setelah itu berilah nomor identitas yang berbeda untuk masing-masing buku dengan stiker/label. Misalnya kita memberi nomor buku dengan code awal mis : K.001 = Komik 001...dst. N.001 = Novel 001...dst.
Taruhlah buku-buku berdasar label warna tersebut didalam rak dengan posisi punggung keluar dan tegak berdiri (bukan ditumpuk), kemudian dari tiap warna kita menaruhnya secara berurutan dari nomor kecil ke nomor besar. Perpustakaan pribadi sederhana sudah siap digunakan.

Seluruh nomor identitas buku yang kita miliki sebaiknya di buat dalam sebuah buku besar yang memuat no, judul, pengarang, penerbit, ISBN, peminjam, tanggal pinjam. Ini penting agar kita tahu identitas peminjam dan tanggal pinjam, sehingga kita tahu buku yang kita beli ada di mana.
Andai memungkinkan data-data tersebut dapat dimuat dalam file komputer (program Excel) sehingga lebih muda memprosesnya.
Jika ingin lebih kelihatan sedikit profesional dan memiliki komputer kita dapat memakai software sederhana untuk dokumen library. Misalnya kita bisa temukan program pengolahan buku pada software filemaker. Atau mencari program pengolahan perpustakaan di internet, walaupun agak sulit dalam penerapannya.
Jadi sangatlah mudah membuat sebuah perpustakaan pribadi. Kenapa tidak memulainya sekarang ?

15 December 2008

rindu

menepis seribu rinduku padamu

adalah mengubur setiap geliat mimpi kita
dalam helaan desah serta seikat sumpah serapah

ah biarkan cerita itu jadi usang...

kemarin adalah cuma sepenggal kisah
tentang erangan sesaat dalam pagut liar
dan lumur peluh

bisikkan saja masa lalu itu
pada badai malam yang kecewa
sambil mendekap erat isak tangismu
dalam tanya-tanya yang tak pernah kujawab

ah biarkan api itu jadi padam ...

kita terlalu belia untuk mengukur hidup
dalam pigura berkaca keemasan
walau pun atas nama cinta

: cuma cinta ... dan bagiku itu bukan apa-apa

25 September 2008

new spirit in your birthday ... tommorow will be better !

Saya teringat kalimat singkat yang selalu saya tulis pada setiap akhir buku catatan pelajaran saya ketika sekolah menengah : Tommorow Will Be Better !. Kalimat sederhana itu dahulu selalu saya tulis dengan harapan akan menjadi pemicu semangat bagi saya untuk mengerjakan sesuatu dengan lebih baik esok harinya.

Sampai saat ini saya tidak pernah tahu, apakah kalimat singkat itu yang benar-benar memacu diri saya untuk lebih baik atau tidak. Tapi saya percaya bahwa akan selalu muncul sugestion dan dorongan dalam pikiran kita setiap kita mendengar atau menulis sesuatu.

Kalimat itu terasa sangat relevan saya ungkapkan pada saat ini, ketika seorang teman yang tengah berulang tahun datang kepada saya beberapa hari lalu dengan sebuah pertanyaan. Dalam kegembiraan pesta dan ucapan selamat dari sahabat dan handai taulan, ia selalu memiliki pertanyaan singkat yang selalu muncul setiap merayakan hari ulang tahun. Apakah tahun ini lebih baik dari tahun lalu, ataukah sama saja ?

Pada kesempatan ini, saya juga merasa perlu mengingatkan kembali kalimat itu. Sebuah kalimat yang bagi saya patut diucapkan pada semua yang tengah berulang tahun, pada diri kita sendiri yang tengah menambah hitungan usia, pada organisasi yang bertambah umur atau pada perusahaan yang tengah berulang tahun.

Hari ulang tahun adalah moment yang paling tepat bagi kita untuk merenungkan langkah yang telah kita lewati selama setahun ini, dan merencanakan apa yang akan kita raih esok hari. Hari ulang tahun adalah waktu yang tepat untuk menumbuhkan semangat baru, waktu yang tepat melahirkan sebuah new spirit dalam kehidupan kita selanjutnya ... dan dari sana kita yakin bahwa hari esok pasti akan lebih baik.

Jadi bagi siapapun yang yang tengah berulang tahun, tidak perlu ada kebimbangan dalam hati tentang kesuksesan apa yang telah kita raih tahun ini, tapi teruslah selalu menumbuhkan semangat baru. Yakinlah, jika kita rencanakan dengan baik maka tahun depan pasti kita akan mendapatkan yang lebih baik lagi.

cogratulations ... tommorow will be better !

25 August 2008

Ramadhan Sale !

Ramadhan Sale ! ini kalimat yang dengan megah terpasang mencolok pada sebuah mall besar di Jakarta hari ini. Kalimat ini menjadi fokus pikiran saya, karena cuma di negeri inilah kalimat seperti ini muncul. Dan saya tahu, kalimat seperti itu banyak bermunculan di seantero kota di negeri ini.

Anda tentu saja tidak akan menemukan kata-kata seperti ini belahan dunia lain, bahkan di negara muslim pun. Ramadhan sale seperti sudah menjadi trademark dalam bisnis retail kita, terutama pada barang fashion dan barang kebutuhan sehari-hari. Pada bulan ini pusat-pusat pertokoan seolah saling berlomba menarik masyarakat untuk datang melalui program yang bertema religius.

Memanfaatkan peluang hampir sempurna telah dilakukan oleh para pengelola pusat perbelanjaan, karena pada bulan ini masyarakat akan terasa larut dalam suasana-suasana religius, walau dalam pemaknaan yang mungkin berbeda satu sama lain. Tapi bisa kah kita mengelak dari arus modernisasi, yang meng-global yang ditandai dengan tingkat konsumerisme masyarat yang tinggi ? Bukankah perekonomian memang harus terus bergerak, konsumen adalah urat nadinya.

Memaknai bulan suci agama kini tidak lagi bisa terelak dari nilai-nilai yang bersifat duniawi. Ramadhan Sale, mungkin hanya salah satu diantaranya. Bukankah sederetan event dengan tajuk religius muncul di hadapan kita melalui siaran-siaran televisi setiap harinya ? Dan intinya selalu bermuara pada nilai yang sama : trend dan keuntungan pasar. Itulah kenyataan.

Tapi mampukah kita mengimbangi makna itu dengan nilai yang lebih religius dan kembali pada nilai pertama kali ketika ramadhan diturunkan ? Yaitu menumbuhkan rasa solidaritas kepada kaum tidak berpunya serta memberi empati kepada saudara kita yang lemah.

Semuanya kembali pada kita. Selamat Berpuasa.

When Heaven Came Down : Memberi Makna Bulan Suci

September 2008....

Bulan ini memiliki nuansa yang teramat berbeda dengan bulan-bulan lain atau bulan sebelumnya. Pada bulan ini, terlihat berbagai stasiun televisi di negeri ini seolah-olah saling berlomba menggelar program-program bertema religius, ditambah dengan deretan artis ternama sebagai pengisi acara, bahkan hampir sepanjang hari !

Sementara di luar sana, deretan pertokoan dan mall-mall terang-terangan bersaing dengan menggelar berbagai event-even khusus ... great sale !, ramadhan sale ! dan berbagai nama event, yang bernuansa sama.

Yup, bulan suci Ramadhan telah tiba. Bulan yang penuh keistimewaan bagi umat Islam, sebuah bulan yang kehadirannya selalu di nantikan. Bulan dimana umat Islam diwajibkan untuk menunaikan ibadah puasa dan dipercaya dipenuhi berkah di setiap hari-harinya.

Bagi para pengelola pertokoan dan mall, inilah saatnya meraih keuntungan yang melimpah. Pertokoan dan mall-mall seantero kota biasanya akan menggelar berbagai acara untuk menambah omzet mereka pada bulan ini, karena pada bulan inilah perdagangan demikian mengairahkan.

Pengelola stasiun-stasiun televisi akan berlomba-lomba merangkai berbagai acara bertema religius, untuk menaikkan rating mereka. Mereka menggelar berbagai acara keagamaan hampir sepanjang hari. Tentu saja dengan mengharap omzet iklan yang melimpah pada bulan ini.

Semua itu sah-sah saja dalam era konsumerisme seperti sekarang ini. Menikmati kegemerlapan bulan ramadhan, menyaksikan kemeriahan bulan spesial, adalah keniscayaan dalam gaya kehidupan modern kita. Akan tetapi yang lebih penting dari hingar bingar semua itu adalah bagaimana kita mampu memaknai bulan suci ini dengan hal-hal yang positive.

Bulan ini adalah saat-saat yang tepat bagi kita untuk mengembangkan rasa empaty kita, menumbuhkan rasa solidaritas kita terhadap kaum yang kebetulan tak seberuntung kita dari segi materi. Itulah makna ramadhan itu sendiri. Dan yang terpenting lagi dari semua itu adalah, bulan ini adalah saat terbaik bagi kita men-charge kadar religius kita, mengisi kembali dasar-dasar keimanan kita, yang mungkin selama setahun ini terbenam dalam urusan duniawi, atau mungkin sedikit terabaikan karena urusan bisnis kita. Inilah saat yang tepat untuk kita melakukannya.

Tidak berlebihan seorang bijak berkata, bahwa pada bulan suci ini adalah : When Heaven Came Down ... saatnya surga turun ke bumi.

Bagi yang menjalankannya, selamat berpuasa.

26 July 2008

Kebahagiaan Kecil

Hambatan terbesar untuk meraih kebahagiaan adalah menginginkan kebahagiaan yang terlalu besar.

Kata-kata seperti itu saya dapat dari seorang teman, seorang tokoh pergerakan di negara ini beberapa tahun lalu.

Entah darimana ia dapat kata-kata itu, dari hati yang pesimistis dan rendah diri atau dari lingkar kebimbangan semata ? tapi saya tidak pernah menolak kebenaran, jika kebenaran itu datang di hadapan kita. Mungkin ia dapat dari pemikiran dalam, setelah bergulat bertahun-tahun dalam harapan dan realita kehidupan yang positif.

Terkadang, kita memang menginginkan suatu kebahagiaan terlampau besar, melebihi kemampuan jari-jari tangan kita menggenggam kebahagiaan itu. Memupuk mimpi-mimpi besar dan membingkainya menjadi khayalan semata. Padahal setiap manusia memiliki batas-batas tertentu di mana kita bisa melangkah dan meraih sesuatu.

Saya percaya bahwa kebahagiaan, akan lebih mudah kita raih jika kita tidak terlalu mengharap kebahagiaan yang terlalu besar. Mulailah bersyukur dengan kebahagiaan-kebahagiaan kecil, mulailah dengan memimpikan kebahagiaan-kebahagian yang sederhana saja. Karena sesungguhnya hati kita akan merangkai sendiri kebahagiaan-kebahagian kecil yang kita miliki menjadi sebuah kebahagiaan besar.

Percayalah, kebahagiaan itu akan selalu mencari jalannya.

21 July 2008

Say With Music...!

Penggalan kata, 'say with music' ini saya adopsi mentah-mentah dari pepatah lama eropa, 'say with flowers' yang sudah menjadi pepatah universal untuk menyatakan perasaan hati seseorang kepada orang lain. Pepatah ini seolah sudah menjadi ikon wajib, dalam kehidupan komunikasi manusia di dunia.

Akan tetapi, tahukah kita bahwa selain bunga, ada bahasa universal lain untuk menyatakan perasaan kita ? yup ... kita sependapat, jawabannya adalah musik. Ia selalu lahir dan hadir di semua bangsa pada setiap keadaan. Hampir seluruh bangsa di dunia telah melahirkan musik dengan jenis yang berbeda-beda, ia hadir untuk melambangkan kata-kata hati, lahir dan hidup menjelma dalam kebudayaan seluruh manusia.

Perbedaan kebudayaan juga menimbulkan tatanan musik yang berbeda satu sama lain, jenis soul dan jazz bisa lahir dari daratan afrika, gamelan diatonik yang lahir dari budaya jawa, rock and roll dari eropa ... atau bagaimana musik berbasic tetabuhan dan rebab lahir dari daerah padang pasir. Semua berbeda dan khas, tetapi ia tetap adalah musik, suatu alunan nada dan bunyi penuh makna. Alunan musik adalah bahasa universal bagi seluruh umat manusia.

Musik akan senantiasa hadir di mana kehidupan itu muncul. Ia selalu hadir dari dalam hati manusia. Alunan musik adalah sound of heart, sesuatu yang lahir dari dalam hati kita. Ketika hati kita penuh kegembiraan, musik bisa mewakili tawa kita. Saat kita bersedih, musik bisa menjelma dari tangis kita.

Jika kita percaya bahwa musik adalah bahasa universal, mengapa kita tidak mulai saling berbicara dalam bahasa yang sama, yaitu bahasa musik ?

Coba kita mulai berkata pada sahabat kita, say with music...!

21 May 2008

Panggil aku hujan...

"Panggil saja aku hujan", katamu manja setengah berbisik. Ketika kutanya namamu malam-malam itu. Sembari bergerak gemulai dalam desah dan gerak perlahan ke dalam pembaringan. "Apa cuma itu ?", tanyaku heran. Nama yang tak lazim di dengar dan tidak cukup enak untuk diucapkan. Entah itu nama asli atau cuma sekedar gurau belaka. Kamu tetap diam seribu kata, gelegak hasratmu lebih menggelora. Ah, peduli apa soal nama bukan ?

"Tak ada yang perlu kau tahu tentang masa laluku ", katamu singkat, sambil tetap mengulum senyum dan sesekali mengelap peluh yang masih bersemayam dalam lekuk-lekuk belahan dadamu. "Ah, rasanya cukup layak aku membayarmu puluhan kali lipat", aku mengguman dalam hati melihat gerakan tanganmu, yang membuatku darahku mengalir deras. Akupun merasa tak peduli lagi, dari mana asalmu.

Ini malam ketiga aku menemuimu. Sebuah kamar sempit dalam lorong kecil penuh aroma dusta cinta. Selalu sama, datang padamu tak pernah ada rasa bosan dalam hatiku untuk terus datang padamu, sekedar melepas hasrat atau bersenang-senang belaka. Tak ada cinta atau apa pun namanya buat kita, aku cukup memberimu sejumlah uang dan kamu memberi hangat tubuhmu sepenuh hati.

Ini hari keempat aku datang padamu, dengan hasrat yang mulai menggelegak dalam dada. Ehm, betapa indahnya membayangkan sekejap saja, merengkuh halus bahumu dan berlabuh dalam aroma badanmu yang menggeliat. Tapi, aku tak lagi menemukanmu malam ini.

Cuma secarik surat dengan warna merah menyala yang kamu titipkan melalui penjual rokok di depan kamarmu.


sungguh aku harus pergi

aku bukan siapa-siapa
aku cuma seorang perempuan penjaja cinta
yang mendapat murka dari sang pencipta
bertahun sudah aku mengidap aids ini
tak bisa terobati, tak bisa tersembuhkan
dan terabaikan dari taubat yang tak pernah sampai

aku cuma hujan, ... dan kamu mungkin adalah awan
tapi, bukankan hujan selalu menjadikan awan tiada ?



Seketika pandanganku terasa mulai gelap dan keringat dingin mengalir deras di sekujur tubuhku. Dunia seakan runtuh malam ini.

***********

Didedikasikan sepenuh hati untuk semua pria yang percaya akan adanya cinta

14 May 2008

Menambah Nilai Jual ! (bukan sekedar kamuflase)

Persoalan pelik terus berulang dihadapi ayah mertua saya. Singkong (umbi kayu) yang ditanamnya di belakang rumah sudah mengeras seperti kayu karena terlalu lama tidak dipanen. Beliau agaknya segan untuk memanennya, padahal sudah lelah menanamnya. Alasannya agak mengharukan, " untuk apa dipanen, toh harganya juga terlalu murah". Singkong atau biasa disebut ubi kayu memang tidak cukup berharga di kalangan petani di Lampung, 1 kilogramnya mungkin cuma berharga 300 rupiah saja. Jadi jika anda memikul satu karung singkong seberat 50 kg sampai lelah ke pasar, anda cuma akan mendapat uang 15 ribu rupiah. Hanya cukup untuk jajan 2 mangkok bakso, plus 2 gelas air mineral di pasar, dan pulang ke rumah dengan tangan hampa.

Akan tetapi, kemarin saya menelusuri sepanjang jalan Kebayoran Lama, satu dua saya menemukan gerai makanan dengan nama 'singkong keju'. Dengan rasa penasaran saya coba membeli dan memakannya, rasanya gurih dan renyah. Harganya sepotong kecil adalah seribu rupiah. Artinya jika satu kilogram singkong dapat dijadikan sekitar 20 potong saja singkong keju, itu akan bernilai 20 ribu rupiah. Dengan asumsi modal 10 ribu, nilai singkong yang cuma seharga 300 rupiah perkilogram di lampung sana, akan menjadi seharga 10 rb rupiah. Hebat !

Menambah nilai lebih pada suatu barang adalah satu cara kreatif yang paling mudah untuk memberikan nilai jual terhadap barang, sehingga barang tersebut memiliki nilai 'kemampuan' untuk segera laku terjual dan tentu saja berharga lebih tinggi.

Pada pokoknya, adalah bagaimana agar suatu barang yang akan kita jual dapat lebih menarik minat konsumen. Pada beberapa produk dilakukan penambahan nilai jual melalui variasi fungsi, misalnya pada makanan dan minuman. Masih ingat pada 'teh rasa melati' yang sempat mendongkrak penjualan teh cap botol beberapa tahun lalu ?

Pada berapa produk yang statis atau tidak bergerak, penambahan nilai jual dapat dilakukan melalui pewarnaan (pengecatan) atau perapihan, misalnya produk rumah tinggal atau kendaraan. Menjual rumah dengan terlebih dahulu dirapikan rumput-rumputnya serta pengecatan ulang akan lebih cepat laku dibanding yang menjual seadanya. Begitu juga dengan kendaraan, biasanya yang terlihat rapi dan mengkilat akan lebih cepat laku.

Malah terkadang ada pula penjual nakal yang seolah memberi nilai lebih pada produknya padahal justru malah menimbulkan kerugian pada konsumen, dan pada gilirannya merugikan penjual sendiri karena akan menurunnya tingkat kepercayaan konsumen terhadap penjual. Salah satu contoh, misalnya proses penggelondongan (pemberian air) pada hewan ternak yang akan dijual agar terlihat gemuk. Inilah yang disebut sebagai kamuflase dalam marketing. Suatu proses seolah-olah memberi nilai lebih pada produk, padahal pada dasarnya tidak memberikan nilai lebih. Melainkan hanya upaya pengelabuan.

Penambahan nilai jual melalui sentuhan pada produk, niscaya akan membuat produk yang kita jual akan lebih berharga tinggi. Jadi mulailah kita menjual barang dengan terlebih dahulu memberi nilai lebih tersebut. Tapi, sekali lagi, hindari kamuflase dalam marketing.

Keberhasilan Besar (dapat) Berasal Dari Kesempatan Kecil

Hampir setiap pagi antara jam 6.00 sampai jam 7.00 saya selalu mendengarkan siaran radio, nama stasiunnya hard rock fm. Siaran ini saya dengar selama perjalanan dari rumah di kawasan Pondok Pinang ke kantor saya di Kebon Jeruk. Acaranya selalu sama, karena saya selalu berangkat pada jam yang sama setiap harinya. Acara itu biasanya dipandu oleh penyiar Stenny Agustav dan Panji Pragiwaksono (sorry kalo namanya salah tulis). Isinya selalu sama, lagu, kuis dan celotehan ringan untuk membangunkan kita dari kantuk yang masih terasa.

Yang istimewa setelah kesekian kalinya saya mendengar acara ini, pagi ini saya mendapat clue menarik dari mereka : Keberhasilan besar didapat dari kesempatan-kesempatan kecil. Ini kisah hidup si penyiar Panji yang secara tidak sengaja melihat iklan lowongan kerja di sebuah koran bekas yang sudah koyak dan terlipat, ketika ia tidak sengaja datang ke kantin kampusnya semasa kuliah dulu. Sebuah kebetulan kecil, ketika ada sekotak iklan kecil yang tak sengaja terbaca tentang lowongan di stasiun radio (tempat ia bernaung sekarang)

Hari ini ia berpikir betapa kesempatan itu sangat kecil, cuma secarik koran bekas yang tidak sengaja terbaca, tapi begitu berarti. Andaikan koran bekas itu dibuang oleh orang lain, atau ia tak datang ke kantin hari itu, atau.... ada banyak kemungkinan lain. Mungkin ia tidak pernah menjadi seorang penyiar di hard rock fm, seperti sekarang ini.

Yup, banyak sekali kesempatan di dalam hidup kita, dari hal-hal kecil yang bahkan tidak kita perkirakan sama sekali sampai hal-hal besar. Banyak kesempatan kecil yang kita abaikan, karena kita anggap terlampau kecil. Ini tentang kisah seorang yang meraih kesuksesan besar dari kesempatan kecil (maaf namanya saya samarkan, untuk kepentingan pribadi).

Kisah ini terjadi sekitar tahun 80-an, seorang pedagang kacang goreng bawang mendapat order membuat sedikit kacang goreng, yang dibungkus dalam plastik kecil-kecil dari seorang pria ... biasa saja bukan, dimana kesempatannya ? ia ragu, bukankah dengan modal yang seadanya ia lebih baik membuat kacang goreng dan menitipkannya di warung-warung seperti biasanya, begitu pikirnya. Walau tidak yakin, ia mencoba menangkap peluang itu dengan baik. Ia membuat pesanan pria itu dengan sebaik-baiknya.

Selanjutnya pesanan pertama pria itu sukses dibuat dan pemesannya puas. Ternyata pria yang memesan kacang goreng itu adalah seorang staff logistik di sebuah maskapai penerbangan, yang sedang mencari suplier kacang goreng bawang untuk snack para penumpang. Alhasil, pedagang kacang goreng warungan itu sekarang menjadi pengusaha sukses yang memasok kacang goreng bawang pada maskapai penerbangan tersebut, tentu saja nilai omzet beratus kali lipat dari sekedar menitip di warung-warung.

Kadang banyak kesempatan yang kita anggap remeh, sehingga kesempatan itu diambil orang lain. Kemudian pada akhirnya kita menyesalinya karena telah meremehkan peluang atau bahkan kadang menjadi iri hati kepada yang mengambil kesempatan itu.

Saya percaya dari sebuah peluang kecil, jika dijalani dengan sepenuh hati ia akan menjadi sebuah keberhasilan besar. Toh, tidak ada yang tahu masa depan kita, bukan ?

05 May 2008

Pasar Yang Bergerak ...

Konsep pasar yang bergerak saya dengar pertama kali dalam ruang kuliah marketing program master di universitas. Sebenarnya teori konsep ini sederhana saja, hanya berkutat tentang perubahan keinginan (kebutuhan) konsumen yang tidak flexible alias tidak konstan alias bergerak. Saya menghindari kata berubah, karena kata berubah cenderung tidak menginspirasi kemajuan. Simple, akan tetapi konsep seperti ini yang sering dilupakan oleh (terutama) para pebisnis pemula, sehingga mereka kerap jatuh dan kembali memulai bisnis pada bidang yang berbeda. Untuk perusahaan mapan, biasanya mereka tidak lupa, tetapi gagal mengidentifikasi keinginan pasar.

Konsep pasar yang bergerak, adalah sebuah konsep pemahaman terhadap kebutuhan dan keinginan konsumen terhadap suatu produk yang tidak sama dari waktu ke waktu. Konsumen adalah sebuah lembaga unik, yang kadang teramat sulit untuk dideteksi keinginannya. Sehingga terkadang pada perusahaan-perusahaan mapan merasa perlu membangun divisi tersendiri untuk mengantisipasi keinginan konsumen ini. Bahkan beberapa perusahaan memakai jasa konsultan loyalty konsumen.

Pasar yang bergerak, adalah rangkaian perubahan-perubahan keinginan konsumen terhadap suatu produk yang sama. Sehingga produk tersebut dipaksa memiliki berbagai varian atau plus produk dari fungsi awal. Sebagai contoh paling nyata adalah konsumen alat elektronik handphone misalnya, konsumen selalu menginginkan hal yang lebih dari sekedar handphone, mereka ingin berkamera, mereka ingin radio, dan seterusnya dan seterusnya.

Demikian pula dengan produk jasa, konsumen selalu ingin berubah. Seorang anak di harapkan pintar matematika, tapi esok hari juga diharapkan pintar bahas asing, kemudian diharapkan pintar bernegosiasi, kemudian pintar, berdiplomasi, dan seterusnya.

Mengabaikan perubahan pasar akan berakibat fatal. Ada beberapa perusahaan yang mesti kehilangan banyak pasar karena gagal mengantisipasi perubahan tersebut Tentu kita masih ingat produk penyentara (pager) yang hilang dari pasar dalam usia 3 tahun. Perusahaan ini tidak mampu mengantisipasi perubahan pasar yang bergerak, dalam arti mereka tidak memiliki cukup ruang untuk memenuhi pergerakan pasar. Mereka gagal memenuhi kebutuhan konsumen yang terus bergerak.

Untuk semua bidang bisnis, tanpa terkecuali, mengantisipasi pasar yang bergerak adalah suatu keharusan. Karena pada dasarnya keinginan konsumen adalah tidak pernah statis, mereka selalu terkooptasi dengan perubahan zaman. Pasar selalu akan bergerak, berubah, walaupun tentu dalam kecepatan yang berbeda satu sama lain.

Jadi untuk pemula, bergeraklah lebih cepat, karena pasar anda juga terus bergerak.

29 April 2008

hari ini matahari pergi

hari ini matahari pergi
sambil meninggalkan sedikit cahayanya


setitik cahaya ia titipkan pada embun
yang membuatnya berkelip di sela dedaunan

setitik cahaya ia titipkan pada batu pualam
yang membuatnya berkilau dalam merah

setitik cahaya ia titipkan pada pantul air danau
yang membuatnya merona kala senja tiba


setitik cahaya lagi, mungkin ia titipkan dalam binar matamu