25 May 2012

Jangan Merampas Masa Depan Mereka

Pagi ini saya membaca sebuah tulisan kecil pada sebuah situs yang saya buka, kalimat singkat dari  John Dewey, seorang filsuf  bermazhab pragmatisme kenamaan dari Amerika Serikat. 
        
 If we teach today’s students as we taught yesterday’s, we rob them of tomorrow.

 
Saya terjemahkan dengan bebas : Jika kita mengajari murid hari ini dengan cara kita mengajari murid kemarin, artinya kita telah merampas masa depan mereka.


Setelah membaca kalimat singkat itu, pikiran saya segera melayang jauh ke masa lalu,   masa-masa  ketika saya menuntut ilmu.

Pendidikan formal saya dimulai pada tingkat sekolah dasar di Jakarta. Ketika itu saya belajar di sekolah dasar yang cukup diminati di lingkungan tempat tinggal kami. Sekolah saya itu terkenal karena lulusannya sebagian besar diterima di sekolah menengah favorit di Jakarta.

Pada masa itu, mata pelajaran yang dijarkan guru di sekolah begitu banyak dan sangat terpengaruh oleh suasana  politik pihak penguasa Negara pada saat itu. Bahkan saya ingat pelajaran yang berhubungan dengan ketatanegaraan saja sampai tiga mata pelajaran. Anehnya, pada masa itu, entah mengapa tidak ada pelajaran Bahasa Inggris sama sekali.

Guru saya pada masa itu  datang dengan materi yang penuh   dengan ilmu kenegaraan,  yang terus berulang dan baku karena telah terkonsep secara matang oleh pemerintah. Saya ingat pada saat itu bahkan kami sangat bangga bila berhasil menghafal deretan nama menteri yang berjumlah puluhan lengkap dengan nama departemen yang dipimpinnya secara tepat.

Wah, rasanya hebat bisa menghafal seperti itu.


Selepas sekolah dasar, saya mulai  memasuki sekolah menengah pertama. Sekolah menengah itu juga merupakan sekolah favorit di lingkungan saya.  Di sana saya mulai mendapat pelajaran Bahasa Inggris dan Science.

Lagi-lagi guru datang ke dalam kelas dengan setumpuk materi berupa catatan dan soal test yang telah ditulisnya bertahun lalu. Bahan-bahan yang sama seperti yang beliau berikan kepada kakak kelas saya setahun lalu, dua tahun lalu bahkan mungkin tiga tahun lalu..

Saya saat itu merasa jadi  kertas fotocopy dari kakak kelas saya.

Ketika saya memasuki sekolah menengah atas, pada awalnya saya datang ke kelas dengan perasaan bangga karena berhasil masuk ke sekolah menengah yang cukup favorit di lingkungan saya. Tugas pelajaran biologi saya yang pertama adalah : saya diharuskan menghafal klasifikasi mahluk hidup sebanyak seratus species dalam satu minggu  !

Wow, saya sampai terkaget-kaget mendengarnya. Menghapal seratus nama latin dari berbagai spesies mahluk hidup dalam satu minggu, bukan pekerjaan mudah bagi saya yang baru mendengar nama latin padi adalah oriza sativa. Saya bersusah payah menghafalnya.

Setelah mendengar cerita kakak kelas saya, ternyata cara menghafal ratusan spesies itu sudah diterapkan berpuluh tahun di sekolah itu. Wah, surprises yang kedua buat saya. Dan sampai hari ini bahkan saya tidak mengerti apa manfaat dari tradisi menghafal nama latin dari seratus spesies itu.

Ketika duduk diperguruan tinggi, saya mendapati tumpukan buku dan modul yang harus saya baca hamper tiap hari. Serta tumpukan Quiz yang tercetak berulang-ulang kali. Saking seringnya difotocopy, tulisan pada soal-soal itu  mulai pudar di sana-sini. sehingga sulit terbaca.

Salah satu sebab mudahnya saya lulus dari perguruan tinggi adalah karena bahan ujian yang mereka ujikan adalah bahan yang sama,  yang pernah mereka ujikan bertahun-tahun lalu. Jika kita rajin membaca soal bertahun-tahun sebelum kita, kita akan menemukan soal ujian kelulusan itu di sana dan mengerjakannya dengan mudah.

Betapa mudahnya meraih gelar sarjana.


Dan hari ini adalah saya, produk dari sistem pendidikan seperti itu. Sistem pendidikan yang mengulang-ulang. Entah hal ini disebabkan karena  guru yang malas berpikir untuk mencari inovasi mengajar yang baru atau memang karena  beliau-beliau sendiri adalah guru  yang terbentuk dari sistem pendidikan berulang-ulang, sehingga sulit berubah.

Saya dan mungkin sebagian besar teman-teman seangkatan saya kini terjerembab dalam persaingan global. Sebagian dari kami tidak bahkan hampir tidak mampu bersaing di negeri kami sendiri. Sebagian besar kami bahkan tidak mampu membaca kemajuan zaman. Sebagian dari kami gagap memahami masa depan dan modernisasi yang begitu cepat.

Mungkin kami generasi yang payah, yang tidak belajar dari masa lalu, karena  kami adalah cetakan dari masa lalu itu sendiri..

Apakah kini  kita akan kembali melahirkan generasi yang gagap menghadapi masa depan ?

Saya berpandangan bahwa keterbelakangan generasi muda kita  adalah karena kita mengajari murid kita dengan cara yang sama dengan kita saat kita memperoleh ilmu itu. Padahal kita dilahirkan  pada masa yang sama sekali berbeda dengan mereka.

Ilmu pengetahuan tidaklah statis, ia selalu berkembang terus menerus. Begitu pula bagaimana cara kita mengajarkan ilmu pengetahuan kepada anak-anak kita.

Anak-anak pada hakekatnya adalah titipan masa depan,  mereka sama sekali bukan warisan dari masa lalu kita. Tugas kita adalah mengajari mereka dengan sesuatu yang kelak ada pada masa mereka, bukan dengan sesuatu yang ada pada masa kita.

Mengajari anak-anak hari ini dengan cara kita kemarin, artinya kita sudah merampas masa depan mereka.

Proviciat Mr Dewey.


11 May 2012

I Love My Job, Although It Made Me Not a Rich: A Librarian's Testimony

I am a librarian. I joined an international school in November 2001 as a Librarian, when we didn’t have a library in the school.

I am so lucky that I have been able to create a real library in the school and fulfill my passions through my job for the past ten years.

As a Librarian, I work as an information specialist in an academic library and I love my job. I love being able to help students and teachers find what they are looking for and also  to help them figure out how to get the information they need for their school works. And these days it isn't just about finding the information, it's also about helping people to learn to control the huge stream of information they have access to and to assess the usefulness of the information they have found.

Now, I am sharing this testimony with you, with the purpose of inspiring your mind and provoking you to put your mind to work and change the circumstances of your life for the better.

I hear a lot of (lucky) people say that they love their job, but many can't seem to give an exact reason as to why.

I want to give you reasons why I love my job, although my job doesn’t give me a big income.
 
           Marva Collins says:
  
          There is no magic about my job
          I do not walk on water, I do not part the sea.
          I just love children.

I love the school, especially my job, because it gives me lots of happiness and fulfillment.

In my job, I get to interact with different people all the time—parents, students or children, teachers, and sometimes volunteers. There is always someone new to talk to. I love the variety of my job.  Every day is a new day. (Before this job, I was an attorney in the law office).

The best part about my job is that I get to show kids that reading is fun. I get to introduce them to new books and hear about all the adventures they have in the books they read.

25 October 2009

Matikan TV anda, dan mulailah membaca !

Suatu permasalah baru diprediksi secara nyata  akan muncul seiring munculnya kemajuan zaman dan modernisasi dalam dunia  teknologi informasi, yaitu masalah akibat lahirnya  sebuah benda ajaib semacam kotak bergambar alias televisi. Masalah yang dikhawatirkan ini akan muncul pada generasi yang akan datang , yaitu melemahnya daya kreatifitas otak  manusia dalam membangun imaginasi terhadap sesuatu keadaan yang ada  di sekitarnya.

Mengapa kekhawatiran itu muncul, padahal begitu besar perjuangan para ilmuwan untuk melahirkan penemuan seperti televisi ini ?

Secara tidak kita sadari, cerita dalam televisi telah membuat daya imaginasi kita  sebagai manusia  makin melemah dan tidak terasah. Kemampuan kita untuk berkhayal dan mengembangkan opini akan berkurang sedikit demi sedikit sehingga sampai pada tingkat tertentu kita tidak mampu berimaginasi secara penuh. Dan itu disebabkan oleh mewabahnya cerita bergambar melalui televisi.

Televisi walaupun terlihat nyata diyakini bukanlah barang yang sehat untuk memaparkan suatu ide cerita dari pengarang kepada penggemarnya. Cerita melalui televisi membuat kita malas berpikir dan tidak terasah secara imaginatif. Cerita televisi dapat diibaratkan seperti roda tambahan pada sepeda roda tiga untuk anak-anak, yang membuat si anak tidak terjatuh tetapi ia tidak juga pandai menjaga keseimbangan untuk selamanya.

Keunggulan cerita melalui buku adalah, ia selalu mampu memancing daya imaginasi kita berkembang, karena selalu mengundang pikiran kita untuk berusaha membuat setting cerita yang semirip mungkin dengan yang dibangun oleh pengarang. Hal seperti  ini tentu tidak akan kita temui di dalam cerita-cerita televisi, karena dalam cerita televisi setting  sudah digambarkan dalam suatu real setting yang sama dengan kondisi begitu nyata.

Jadi matikan televisi anda sekarang, dan mulailah membaca atau kita akan kehilangan daya imaginasi kita selamanya.